Euthanasia dalam Pandangan Islam

Islam mengajarkan kepada kita untuk memelihara setiap jiwa manusia. Agama yang rahmatan lil ‘alamin ini pun tidak pernah mengajarkan dan bahkan melarang adanya pembunuhan baik yang tanpa persetujuan korban maupun dengan permintaan korban sendiri. Lalu bagaimana dengan Eutahanasia Killing? Ya, memang masih banyak sekali pro-kontra dalam masalah ini. Para pro-Euthanasia Killing berpendapat bahwa seseorang yang tidak dapat melakukan apapun atau tidak produktif lagi dalam hidupnya seperti pasien dalam keadaan terminal memiliki hak untuk mati  demi kebaikan dirinya sendiri. Mereka beranggapan dengan adanya Euthanasia Killing, pasien dalam keadaan terminal bisa hilang penderitaanya secara seketika dalam keadan damai. Berbeda dengan orang-orang yang kontra dengan Euthanasia Killing, mereka berargumen bahwa setiap jiwa yang dianugerahkan oleh Tuhan adalah penting untuk dijaga dan dihormati keberadaanya. Maka, mereka beranggapan bahwa Euthanasia Killing adalah hal yang sama sekali tidak diperbolehkan karena ini sama saja dengan pembunuhan dan tidak adanya penghormatan bagi jiwa seseorang.

Lalu, bagaimana dengan agama islam? Tentu saja islam sangat melarang akan hal ini. Tegasnya, agama islam tidak pernah mengizinkan pembunuhan baik itu terencana ataupun tidak kecuali dalam beberapa hal, yaitu orang yang bersangkutan membunuh orang lain secara melawan hukum, orang yang sudah menikah melakukan perzinaan atau murtad. Rasulullah SAW bersanda : “Tidak dihalalkan darah seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Aku (Muhammad) itu utusan Allah, kecuali oleh satu sebab dari tiga alasan, yaitu orang yang (diqisas) karena membunuh orang lain, berzina sedang ia sudah kawin, dan keran meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin).” (HR. Buhkari)

Berdasarkan ayat dan hadits diatas dapat dikatakan bahwa larangan pembunuhan tanpa hak itu bersifat umum dan mutlak. Dengan tindakan seseorang yang memberikan suntikan obat berdosis tinggi dengan tujuan untuk mempercepat kematian pasiennya adalah termasuk tindakan pembunuhan yang terlarang. Karena yang berhak menentukan cepat atau lambatnya ajal adalah merupakan hak prerogatif Allah, seperti diungkapkan dalam firman Allah yang berbunyi :

Artinya : “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Yunus : 107)

Ayat diatas jelas mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu yang bersifat sulit hanya Allah yang dapat menghilangkannya termasuk seorang pasien dalam keadaan terminal. Maka, jika Euthanasia Killing dilakukan berarti orang yang melakukan hal tersebut sama saja dengan tidak menyetujui kehendak Allah karena mungkin saja Allah sedang memberikan ujian kepada orang yang bersangkutan. Sehingga walaupun seseorang melakukan Euthanasia Killing demi kebaikan (berhentinya penderitaan) orang lain, namun hal tersebut mengakibatkan kematian, maka tetap saja Euthanasia Killing ini dilarang sebab perbuatan haram tak akan menjadi halal lantaran niat baik. Islam memandang tindakan yang bermanfaat adalah caranya benar secara syara dan niatnya pun benar secara syara pula.

Niat baik dalam Euthanasia Killing pada hakekatnya termasuk dalam kategori pemberian bantuan dalam perbuatan yang dilarang Tuhan, sebab menginginkan kematian lantaran suatu penderitaan hidup termasuk penyakit yang tidak kunjung sembuh adalah dilarang oleh Allah. Nabi SAW bersabda : “Janganlah seorang kamu mengharapkan kematian karena sesuatu musibah yang menimpanya, tetapi jika terpaksa ia harus berbuat begitu maka katakanlah: Ya Allah biarkanlah aku hidup jika hidup ini lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika mati itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari dari Anas)

Hadits di atas jelas menerangkan bahwa mengharapkan kematian adalah dilarang baik karena musibah yang didapatnya maupun karena harta yang tidak dimilikinya. Dikecualikan mengharapkan mati karena rindu kepada Allah karena ingin syahid atau karena takut fitnah dengan satu keyakinan, bahwa kematian itu lebih baik.

Tindakan Euthanasia Killing berbeda dengan berdoa memohon tunjukan kepada Allah agar dipilihkan yang terbaik antara hidup dengan mati karena tindakan ini merupakan cerminan sikap hidup yang optimis dan bukan keputusasaan. Sedangkan mengharapkan kematian yang diwujudkan melalui Euthanasia Killing merupakan sikap keputusan yang dibenci oleh Tuhan, sesuai Q.S. Yusuf (12) : 87. Yang berbunyi :

Artinya : “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada  berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf : 87)

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa sikap putus asa dikategorikan sebagai sikap kekufuran apalagi keputusasaan yang menjurus kepada kematian melalui Euthanasia Killing. Bahkan tindakan Euthanasia Killing dalam hal ini mengakibatkan dosa yang berlipat ganda yaitu dosa karena putus asa dari rahmat Allah dan dosa karena membunuh diri sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam hal ini tindakan dokter yang membantu mempercepat kematian pasien melalui Euthanasia Killing juga pada hakekatnya turut menanggung dosa dan perbuatannya itu termasuk kategori haram. Niat “baik” dokter dalam kasus ini tetap haram karena cara yang ditempuh adalah salah sehingga berakibatkan kematian juga salah menurut hukum Islam. Sebab dalam kondisi kritis itu seharusnya dokter berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pengobatan kepada pasiennya, bukannya diberikan obat yang dapat mempercepat kematian pasien. Dalam kaidah fiqh dijelaskan, bahwa al-dararu la yuzalu bi aldarar (bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya yang lain).

Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa memudahkan proses kematian pasien secara Euthanasia Killing aktif, seperti pada contoh yang telah dikemukakan diatas, tidak dibolehkan. Sebab tindakan aktif dengan tujuan membunuh si pasien dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara overdosis atau cara lainnya. Tindakan ini tetap dalam kategori pembunuhan, walaupun yang mendorong itu rasa kasihan kepada pasien dan untuk meringankan penderitaannya. Karena bagaimanapun dokter tidak lebih pengasih dan penyayang daripada Allah. Manusia harus menyerahkan hidup dan matinya kepada Allah. Dalam Euthanasia Killing menandakan manusia terlalu cepat menyerah kepada (fatalis), padahal Allah menyuruh manusia untuk selalu berusaha / berikhtiar sampai akhir hayatnya.

Sedangkan memudahkan proses kematian pasien dengan Euthanasia Killing pasif ini adalah boleh dan dibenarkan syara, bila keluarga penderita mengizinkannya dan dokter diperbolehkan melakukannya untuk meringankan penderitaan si sakit dan keluarganya. Hal ini berlaku juga terhadap tindakan dokter menghentikan alat pernapasan buatan dari si sakit, yang menurut pandangan dokter dia dianggap sudah “mati” atau “dihukumi telah mati” karena jaringan otak atau sumsun yang dengannya seorang dapat hidup dan merasakan sesuatu, telah rusak.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa Euthanasia Killing aktif haram hukumnya sedangkan Euthanasia Killing pasif dibolehkan karena pada hakekatnya tidak ada keterlibatan langsung dokter dalam kasus terjadinya kematian penderita. Kematian yang dialaminya disebabkan oleh penyakit yang dideritanya, bukan karena akibat tindakan dokter. Waullohu’alam bissawab.

Sumber : La Jamaa’. Euthanasia Killing Menurut Tinjauan Hukum Islam. Jurnal JABAL HIKMAH, STAIN AL-FATAH JAYAPURA. No.2, Vol.1 Januari-Juni 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s